Photo Album Batur UNESCO Global Geopark

Sumber gambar:
Kampung Trunyan

Masyarakat Trunyan mempunyai tradisi pemakaman di mana jenazah dimakamkan di atas batu besar yang memiliki cekungan 7 buah. Adat Desa Terunyan mengatur tata cara menguburkan mayat bagi warganya. Di desa ini ada tiga kuburan (sema) yang diperuntukan bagi tiga jenis kematian yang berbeda. Apabila salah seorang warga Terunyan meninggal secara wajar, mayatnya ditutupi kain putih, diupacarai, kemudian diletakkan tanpa dikubur di bawah pohon besar bernama Taru Menyan, di sebuah lokasi bernama Sema Wayah. Namun, apabila penyebab kematiannya tidak wajar, seperti karena kecelakaan, bunuh diri, atau dibunuh orang, mayatnya akan diletakan di lokasi yang bernama Sema Bantas. Sedangkan untuk mengubur bayi dan anak kecil, atau warga yang sudah dewasa tetapi belum menikah, akan diletakan di Sema Muda (Rumah Miarta Yasa) Penjelasan mengapa mayat yang diletakan dengan rapi di sema (kuburan) itu tidak menimbulkan bau padahal secara alamiah, tetapi terjadi penguraian atas mayat-mayat tersebut, disebabkan pohon Taru Menyan tersebut, yang bisa mengeluarkan bau harum dan mampu menetralisir bau busuk mayat. Taru berarti pohon, sedang Menyan berarti harum. Pohon Taru Menyan ini, hanya tumbuh di daerah ini. Jadilah Tarumenyan yang kemudian lebih dikenal sebagai Terunyan yang diyakini sebagai asal usul nama desa tersebut. Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Trunyan

Kampung Trunyan

Masyarakat Trunyan mempunyai tradisi pemakaman di mana jenazah dimakamkan di atas batu besar yang memiliki cekungan 7 buah. Adat Desa Terunyan mengatur tata cara menguburkan mayat bagi warganya. Di desa ini ada tiga kuburan (sema) yang diperuntukan bagi tiga jenis kematian yang berbeda. Apabila salah seorang warga Terunyan meninggal secara wajar, mayatnya ditutupi kain putih, diupacarai, kemudian diletakkan tanpa dikubur di bawah pohon besar bernama Taru Menyan, di sebuah lokasi bernama Sema Wayah. Namun, apabila penyebab kematiannya tidak wajar, seperti karena kecelakaan, bunuh diri, atau dibunuh orang, mayatnya akan diletakan di lokasi yang bernama Sema Bantas. Sedangkan untuk mengubur bayi dan anak kecil, atau warga yang sudah dewasa tetapi belum menikah, akan diletakan di Sema Muda (Rumah Miarta Yasa) Penjelasan mengapa mayat yang diletakan dengan rapi di sema (kuburan) itu tidak menimbulkan bau padahal secara alamiah, tetapi terjadi penguraian atas mayat-mayat tersebut, disebabkan pohon Taru Menyan tersebut, yang bisa mengeluarkan bau harum dan mampu menetralisir bau busuk mayat. Taru berarti pohon, sedang Menyan berarti harum. Pohon Taru Menyan ini, hanya tumbuh di daerah ini. Jadilah Tarumenyan yang kemudian lebih dikenal sebagai Terunyan yang diyakini sebagai asal usul nama desa tersebut. Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Trunyan

Gunung Batur

Kawasan Gunung Batur terkenal sebagai objek wisata andalan Kabupaten Bangli. Konon menurut cerita dalam Lontar Susana Bali, Gunung Batur merupakan puncak dari Gunung Mahameru yang dipindahkan Batara Pasupati untuik dijadikan Sthana Betari Danuh (istana Dewi Danu). Pada waktu tertentu, seluruh umat Hindu dari berbagai daerah di Bali datang ke Batur menghaturkan Suwinih untuk mengusir bencana hama yang menimpa ladang mereka. Dengan menghantarkan suminih ini maka kawasan gunung Batur menjadi daerah yang subur. Daerah yang dapat ditonjolkan sebagai objek wisata adalah kawah, kaldera dan danau. Terdapat aliran air dalam tanah yang mengalirkan air Danau Batur, yang muncul menjadi mata air di beberapa tempat di Bali dan dianggap sebagai "Tirta Suci" Wisata budaya yang terdapat di kawasan Gunung Batur adalah Trunyan. Meskipun seluruh penduduk Trunyan beragama Hindu seperti umumnya masyarakat Bali, mereka menyatakan bahwa Hindu Trunyan merupakan Hindu asli warisan kerajaan Majapahit. Di sebelah utara Trunyan terdapat kuban, sebuah tempat makam desa, namun jenazah tidak dikuburkan atau dibakar, melainkan diletakkan di bawah pohon setelah dilakukan upacara kematian yang rumit. Tempat pemakamanan ini dipenuhi oleh tulang-tulang, dan bisa jadi kita menemukan mayat yang masih baru. Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Batur

Pura Ulun Danu Batur

Pura Ulun Danu Batur jadi destinasi wisata yang menarik saat berkunjung ke Kintamani, Pulau Bali. Pura yang satu ini dikenal sebagai pura paling penting kedua di Pulau Bali. Tentunya setelah Pura Besakih. Jadi tidak heran kalau upacara keagamaan Hindu pun kerap dilakukan di tempat ini. Pura Ulun Danu Batur ini juga dikenal sebagai sebuah pura yang mempunyai usia sangat tua. Pura yang didirikan pada tahun 1926 ini pun dikenal dengan beberapa nama. Di antaranya adalah Pura Ulun Danu, Pura Batur ataupun pura Bat. Masyarakat Hindu di Kintamani mendirikan Pura Ulun Danu Batur ini sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Danu yang dikenal sebagai dewi sungai dan danau. Dan secara literal, Ulun Danu yang digunakan pada nama pura ini mempunyai arti dewi danau. Sumber: https://www.kintamani.id/pura-ulun-danu-batur-di-kintamani-00147.html

Upacara Ngusaba

Upacara Ngusaba adalah salah satu bentuk upacara yadnya sebagai media yang sakral untuk menanamkan nilai-nilai hidup. Beryadnya kepada Tuhan, alam dan sesama manusia seperti kepada orang tua atau leluhur, kepada anak-anak maupun kepada para Resi adalah tanggung jawab sebagai mahluk cuiptaan Tuhan. Upacara ngusabha sesungguhnya upacara melasti yang bersifat khusus. Misalnya, Ngusaba Nini adalah Ngusabha yang khusus untuk memuja Dewi Sri sebagai Bhatara Nini-- Dewanya padi. Dalam Lontar Widhisastra, Ngusabha Nini untuk Negtegan Toga. Sedangkan Ngusabha Desa dalam Lontar Dewa Tattwa dan Lontar Usana Dewa bertujuan untuk kapagehang bayun bhumi. Ada juga yang menyebutkan negtegan bayun tanah atau pertiwi. Upacara ngusabha diuraikan juga dalam beberapa sumber pustaka Lontar seperti Lontar Siwagama, Widhisastra, Sri Purana, Dharma Pemaculan dll. Sumber:http://galangbali.blogspot.com/2016/12/upacara-ngusaba.html

Anjing Kintamani

Kintamani juga memiliki anjing kintamani yang merupakan ras anjing yang berasal dari daerah pegunungan Kintamani, pulau Bali. Anjing yang memiliki sifat pemberani ini sudah lama mulai dibiakkan sehingga dapat diakui oleh dunia internasional. Secara fenotipe Anjing Kintamani mudah dikenal, dapat dibandingkan dengan jelas antara Anjing Kintamani dengan anjing-anjing lokal yang ada, ataupun anjing hasil persilangan antara ras yang sama maupun persilangan lainnya. Standar fenotipe Anjing Kintamani meliputi ciri-ciri umum, sifat-sifat umum, tinggi badan hingga ke gumba, dasar pigmentasikulit, bentuk kepala, telinga, mata, hidung, gigi, bentuk leher, bentuk badan, kaki dan ekor mempunyai kesamaan.

Komite Nasional Geopark Indonesia adalah wadah koordinasi, sinergi, dan sinkronisasi antarlembaga pemerintah dalam rangka penetapan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan, pengelolaan, serta pembinaan dan pengawasangeopark.

Gedung Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman
Jalan M.H. Thamrin No.8, Menteng, Jakarta Pusat
DKI Jakarta 10340, Indonesia

+6221 2395 1100 ext. 1571
idgeoparks@maritim.go.id
Anggota KNGI :
Sponsor APGN 2019 :
Trulli