Sumber gambar: https://www.kemlu.go.id/id/berita/berita-perwakilan/Pages/Menggali-Potensi-Natuna-sebagai-Geo-park-Dunia.aspx

Geopark Natuna

Di Kepulauan Natuna Provinsi Kepulauan Riau berkembang dua cekungan Sedimentasi Tersier yang kaya minyak dan gas), yaitu Cekungan Natuna Barat (West Natuna Basin) dan Cekungan Natuna Timur (East Natuna Basin), yang dipisahkan oleh sistem punggungan Natuna (Natuna Arch) yang berarah utara-selatan. Salah satu Punggungannya adalah Pulau Natuna Besar atau lebih dikenal sebagai Pulau Bunguran. Pemunculan Kepulauan Natuna hingga saat ini berhubungan dengan gerak kompresi barat-timur yang mengangkat bagian barat Pulau Natuna yang tersusun oleh batuan ultramafik, mafik, malihan dan batuan sedimen pelagos.

Kenampakan bahan kerak samudera di wilayah ini kemungkinan erat kaitannya dengan terbukanya secara cepat (relative) pada cekungan belakang. Pulau Bunguran dan sekitarnya yang unik memiliki morfologi dasar laut yang berkembang di sekitar Pulau relatif sedang sampai dalam. Di sekitar pulau-pulau pola kontur mengikuti pola garis pantai melingkar dengan morfologi yang landai ditunjukan oleh garis kontur yang tidak renggang, di bagian tengah membentuk kontur terbuka yang semakin terjal dan dalam ke arah utara sehingga sejak dahulu kala telah dimanfaatkan sebagai alur pelayaran internasional yang banyak dilalui kapal-kapal berukuran besar.

Proses endogen dan eksogen di Kepulauan Natuna telah memunculkan batuan granit dan batuan sedimen ke permukaan, sehingga membentuk keragaman bentangalam. Ketinggian antar wilayah di Kepulauan Natuna berkisar antara 3 – 959 mdpl dengan kemiringan antara 2 – 5 m. Adapun gunung atau bukit di Pulau Bunguran yang khas, di antaranya: G. Bedung; G. Segeram; G. Ceruk; G. Bukitkapur, dan G. Ranai (959 mdpl). Keunikan geologi yang dimiliki Kabupaten Natuna adalah munculnya batuan tua dari kedalaman bumi berupa Rijang. Batuan ini merupakan bagian dari Formasi Bunguran (Haile., 1970; Hakim dan Suryono, 1994) berumur Jura-Kapur dan para ahli mengatakannya sebagai batuan alas. Rijang ditemui berwarna coklat kehitaman dalam keadaan fresh danm merah kecoklatan ketika batuan mulai lapuk.

Komite Nasional Geopark Indonesia adalah wadah koordinasi, sinergi, dan sinkronisasi antarlembaga pemerintah dalam rangka penetapan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan, pengelolaan, serta pembinaan dan pengawasangeopark.

Gedung Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman
Jalan M.H. Thamrin No.8, Menteng, Jakarta Pusat
DKI Jakarta 10340, Indonesia

+6221 2395 1100 ext. 1571
idgeoparks@maritim.go.id
Anggota KNGI :